Surga Itu Ternyata Ada di Nusantara

Sebagai sebuah tulisan yang masih didominasi oleh cara pandang Eropa, buku Sejarah Rempah dari Erotisme Sampai Imperialisme karangan Jack Turner telah berhasil menempatkan Eropa sebagai pusat dari proses sejarah dunia walaupun pokok pembahasan berangkat dari satu ketegori komoditi yang tidak dihasilkan di Eropa. Akibatnya seperti layaknya tulisan sejarah kolonial yang lain, hampir seluruh rekonstruksi historis atas kenyataan ekonomi yang dibangun dalam buku ini berpusat pada fakta-fakta yang terjadi di Eropa atau aktivitas orang Eropa di belahan dunia lain. Hal itu tentu saja sekaligus menyisihkan kenyataan-kenyataan sejarah rempah yang berada di luar atmosfir Eropa sehingga hanya menjadi layaknya bumbu penyedap, memberi rasa utama atas sebuah masakan tetapi tidak dianggap layak untuk menjadi pemangku identitas.
Dalam konteks sejarah ekonomi, keberadaan Eropa sebenarnya hanya sebagai konsumen atas rempah-rempah yang dihasilkan oleh para produsen di “tanah surga” yang terletak nun jauh di tenggara. Di dalam rekonstruksi dan pemaknaan sejarah yang sangat kaya, memikat, dan tidak konvensional itu, di dalam buku ini proses perdagangan sebagai salah satu ketegori ekonomi yang menjadi perantara sehingga rempah-rempah itu bisa dinikmati dan sekaligus memberi keuntungan ekonomis yang besar di Eropa telah direduksi menjadi proses sejarah dari pencanggihan atau peningkatan peradaban Barat yang berpusat di Eropa. Walaupun di sana sini muncul kritik dan ekspresi sinistik atas kebiadaban serta kerakusan ekonomis orang Eropa dalam proses pengadaan rempah-rempah, secara keseluruhan uraian yang ada dalam buku ini tidak dapat menutupi narasi besar yang memusatkan gerak sejarah pada kebesaran kebudayaan Eropa. Padahal dalam konteks lada yang menjadi salah satu jenis rempah utama misalnya, Eropa hanya berhubungan secara ekonomis dengan tidak lebih 25% dari seluruh lada yang dihasilkan di Asia sekitar tahun 1500. Bahkan dari sekitar 6.000 bahar lada yang diperdagangkan di Malaka sebagai salah satu pusat ekonomi rempah utama di dunia pada periode yang sama, hanya sekitar 5% yang mencapai Eropa. Ketika semakin banyak pedagang Amerika berinteraksi dengan proses perdagangan di Sumatera sepanjang akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19, berbagai dokumen menunjukkan relasi antara ekonomi dengan kekuasaan berupa praktik penyuapan dan korupsi di berbagai komunitas di Aceh misalnya. Hal itu menunjukkan bahwa ada kenyataan lebih besar dari sejarah ekonomi dalam kehidupan sehari-hari yang berlangsung di luar atmosfir Eropa, tetapi terabaikan. Kenyataan ekonomis itu seakan-akan baru muncul ketika terjadi interaksi dengan orang-orang manca, khususnya dengan mereka yang kemudian menjadi cikal bakal dari imperialisme dan kolonialisme Barat di Nusantara.
Sebagai salah satu produsen utama atas tiga dari empat besar rempah utama dan sekaligus konsumen atas berbagai jenis rempah itu, kita perlu membayangkan secara historis kenyataan-kenyataan dari ekonomi rempah dalam kehidupan sehari-hari yang berlangsung di kawasan Nusantara, “surga” tempat asal dari rempah-rempah yang selalu diimpikan oleh Christopher Colombus dalam setiap ekspedisi pelayarannya. Keberadaan begitu banyak kuliner yang didominasi oleh rasa rempah di wilayah ini tentu menciptakan pasar rempah untuk memenuhi kebutuhan domestik, karena tidak semua rempah itu tersedia di hutan, kebun, atau halaman rumah mereka. Sebuah sistem produksi tercipta. Ketika para penguasa politik dan interprenur lokal melihat kesempatan ekonomi menjadi semakin besar seiring dengan meningkatnya permintaan dari luar, sudah dapat dipastikan sebuah sistem produksi baru atau pola distribusi baru tercipta untuk membangun keseimbangan antara kebutuhan domestik dengan permintaan dari luar. Atau pada kasus yang lain keadaan itu menimbulkan kekacauan distribusi pada pasar domestik karena keserakahan penguasa dan pedagang lokal yang telah terkooptasi oleh tradisi koruptif yang disebabkan oleh interaksi mereka untuk memenuhi kepentingan luar. Hasilnya, sebuah narasi besar sejarah tentang imperialisme dan kolonialisme yang berawal dari ekonomi rempah dibangun berdasarkan perspektif dari dalam dan berpusat pada para penghuni “tanah surga” bukan pada para pendatang dan tanah tumpah darah mereka yang nun jauh di ujung utara sana. Konstruksi sejarah seperti ini juga tidak akan berpusat pada istana dan para elitenya semata, melainkan akan dimulai dari kebun petani dan dapur penduduk sampai munculnya kesadaran tentang arti penting penampilan dan keinginan makan enak dalam kehidupan sehari-hari.
Hal itu berarti secara konseptual “surga” tidak lagi dibayangkan sebagai ruang yang berjarak jauh dan harus dijangkau dengan cara apapun seperti yang berlaku dalam kerangka berpikir Eropa yang telah menghegemonik itu, melainkan sebagai ruang yang ada di sekeliling kita dan harus dijaga kelestariannya agar kita tetap bisa menikmati dan mendapat keuntungan darinya. Jika Eropa secara historis ditakdirkan untuk berlaku ekspansif dan culas agar dapat mencapai “surga”, maka meminjam kerangka berpikir Kuntowijoyo kita di bumi Nusantara membangun kebudayaan “sebagai dimensi simbolik dan ekspresif kehidupan sosial” dengan menjaga keberlangsungan “surga”. Dalam konteks ini menjaga tidak dapat lagi diartikan pasif melainkan sebagai sebuah usaha yang dinamis dalam berproses secara historis untuk tetap memiliki kecanggihan budaya. Berdasarkan perspektif ini, ketika proses sejarah umat manusia semakin menjauh dari hulunya, maka “kemajuan” ternyata lebih didominasi oleh prinsip-prinsip penindasan dan penghancuran atas bumi yang dipijak dan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Diilhami oleh sejarah ekonomi rempah sebagai bagian dari kebudayaan panjang umat manusia, maka berekonomi tidak harus berarti rakus, curang dan korup. Selamat mencoba resep bayang-bayang yang beraroma terapi ini.
Bambang Purwanto
Judul asli: “Surga Itu Ternyata Ada di Nusantara: Membayangkan Ekonomi Rempah dalam Sejarah Kehidupan Sehari-hari”, pengantar diskusi pada Panel Rempah #1, Yogyakarta, 5 Januari 2012.
5 notes
-
dumbluckygirl liked this
-
nilunatic reblogged this from nalanandana
-
cokiliciouz reblogged this from rempah
-
nalanandana liked this
-
nalanandana reblogged this from rempah
-
rempah posted this
